PSSI Askot Malang, Gelar Kursus Lisensi D Nasional Tahap 2

PSSI Asosiasi Kota (Askot) Malang, terus berupaya untuk bisa meningkatkan kapasitas pelatih di level pembinaan usia dini atau dikenal dengan grass root. Yang terbaru, PSSI Askot Malang menggelar kursus pelatih lisensi D Nasional di kompleks UMM Malang pada 11-18 Januari 2019.

Pelatihan yang merupakan batch kedua ini diikuti 23 peserta, dengan trainer dan mentor adalah Coach Satia Bagdja, didampingi Fahrial Amiq. Peserta sendiri berasal dari berbagai kota dan kabupaten dari Propinsi Jawa Timur.

Pembukaan kursus yang sudah memasuki periode kedua ini sendiri, dibuka langsung oleh Ketua Umum PSSI Askot Malang Haris Thofly. Dalam pernyataannya, Haris berharap agar para peserta bisa mengikuti pelatihan ini secara seksama, bukan hanya segi teknis, namun bagaimana pentingnya mengawal dan membina mental pemain muda.

“Grass root ini  menjadi dasar dari sepakbola. Oleh karena itu, pelatih di level ini sangatlah penting. Sehingga saya harapkan, peserta bukan hanya fokus pada teknik, strategi dan pola permainan saja. Namun juga penting bagi mereka untuk bisa mengembangkan mental anak – anak di usia dini ini,” ucap Haris.

Harapannya dengan para calon pelatih juga berfokus kepada sikap dan mental adalah, ke depan, bisa muncul pesepakbola – pesepakbola Tanah Air yang selalu menjunjung tinggi sportivitas, fair play, dan juga menghormati lawan dan kawan di lapangan.

Kursus pelatih kali ini sudah memasuki fase tahap kedua. Tahap pertama, sudah diadakan pada bulan Desember 2019 lalu, dengan peserta sebanyak 30 orang. Sehingga total dengan tahap kedua, sudah ada 53 peserta yang mengikuti kursus lisensi D nasional bersama PSSI Askot Malang.

Sukses Luluskan Semua Peserta Lisensi D, Ini Harapan PSSI Askot Malang

Kursus/ pelatihan Lisensi D Nasional yang digelar PSSI Askot Malang (16-22 Desember 2019) berlangsung sukses, dengan berhasilnya 30 peserta yang mengikuti lulus dengan baik. Namun menurut PSSI Askot Malang tugas besar justru sudah menanti para pelatih baru tersebut.

Lisensi D yang memiliki kekhususan untuk level grass root (usia dini), menurut Ketua Umum PSSI Askot Malang Haris Thofly akan memiliki tantangan tersendiri. Karena pelatih di level ini memiliki tugas berat untuk  bisa membentuk pesepakbola sejak tingkatan paling dasar.

Haris menyebut, tugas para pelatih dengan lisensi D tersebut bukan sekedar membentuk teknik dan skill yang baik kepada anak -anak. Melain juga punya tugas penting untuk bagaimana menanamkan moral dan karakter pesepakbola yang bertumpu pada fair play sejak usia dini.

“Saya kira dalam hirarki pembinaan sepakbola, justru di level grassroot ini yang menjadi sangat penting. Karena disinilah seorang pesepakola dibentuk sejak dini. Sehingga sangat penting bagi pelatih, untuk tidak hanya mengajarkan tentang teknik bermain, namun juga pembentukan karakter bagi anak – anak. Karena ini akan terbawa sampai mereka dewasa nanti,” urai Haris Thofly.

Karakter yang dimaksudkan Haris, adalah bagaimana pesepakbola bisa selalu berlaku jujur di atas lapangan hijau, saling mengormati teman dan lawan, dan juga perangkat pertandingan, serta selalu mengedepankan sikap fair play di setiap pertandingan.

“Pendidikan karakter sejak dini sangat penting, agar calon – calon pemain sepakbola ini sudah tahu bagaimana dia harus bersikap di atas lapangan. Sehingga bisa saling menghormati baik kepada lawan maupun perangkat pertandingan. Kalau ini bisa dipupuk sejak dini, tentu hingga para pemain ini tumbuh jadi pemain profesional, sifat positif ini bisa terus mereka bawa,” pungkas pria yang juga akademisi di Universitas Muhammadiyah Malang tersebut.

PSSI Askot Malang Gelar Pelatihan Lisensi D Nasional

Demi terus meningkatkan kapasitas pelatih sepakbola, PSSI Asosiasi Kota Malang menggelar pelatihan, atau kursus pelatih untuk lisensi D Nasional. Digelar mulai 16-22 Desember 2019, kursus kepelatihan ini diikuti tidak kurang dari 30 peserta dari wilayah Malang Raya dan sekitarnya.

Dari 30 perserta pelatihan yang digelar di kawasan UMM Malang tersebut, 16 diantaranya berasal dari tuan rumah PSSI Askot Malang. Banyaknya perserta dari Kota Malang sendiri mendapat sambutan baik dari Ketua Umum PSSI Askot Malang Haris Thofly. Menurutnya, ini adalah wujud bahwa semangat pembinaan sepakbola di wilayah Kota Pendidikan ini terus meningkat dan tidak pernah surut.

“Alhamdullilah memang kita mengirimkan banyak peserta di kursus Lisensi D Nasional Tahun 2019 ini. Dengan harapan pembinaan di wilayah kami bisa semakin profesional dan terarah. Sehingga ke depan Kota Malang juga akan terus bisa menghasilkan bakat – bakat terbaik sepakbola nasional, bukan saja dari pemain namun juga pelatih dan perangkat pertandingan,” papar Haris.

Dalam kursus kepelatihan ini, sebagai instruktur, hadir dua pelatih level nasional yaitu, Hanafing dan juga pelatih asli Malang yang sudah banyak malang melintang di level Liga 1, Agus Yuwono. Selama sepekan ke depan, kedua pelatih ini akan membagi ilmu nya, dan melakukan test dan ujian kepada para peserta kursus Lisensi D.

Materi di Lisensi D lebih berfokus pada pendidikan dan pengembangan sepakbola di level grass root atau anak – anak. Khususnya pembentukan karakter pesepakbola yang baik sejak usia muda.

Haris Thofly: Semoga Muncul Alexvan Djin Lain Dari Kota Malang

Keberhasilan Timnas U-23 meraih medali perak di pentas SEA Games 2019, ternyata tak lepas dari kiprah salah satu pemain binaan Askot PSSI Malang, dia adalah bek sayap Dodi Alexvan Djin, yang mampu tampil ekselen di beberapa Timnas mulai dari babak kualifikasi hinga final.

Ya, dijelaskan oleh Ketua Umum PSSI Askot Malang Haris Thofly bahwa Alex memang tumbuh dan berkembang sebagai pesepakbola di Kota Malang. Masa muda pemain berdarah Ambon tersebut ditempa di beberapa klub asal Kota Pendidikan tersebut.

“Alex ini dahulu bergabung dengan klub Porto yang merupakan anggota internal Askot PSSI Malang. Kemudian karena memang dia berbakat, Alex juga sempat bermain untuk Persema baik di Soeratin maupun juga Liga 3. Dahulu dia juga bersekolah di SMKN 12, sebelum akhirnya minta izin untuk bergabung dengan Persik Kediri pada medio 2018 yang lalu,” kenang Haris.

Haris sangat bangga dan mengapresiasi apa yang dilakukan Alex bersama Timnas U-23 di ajang SEA Games 2019. Menurutnya, Alex memang pemain yang sangat potensial dan punya karakter kuat.

“Alhamdullilah kami di PSSI Kota Malang sangat bangga degan apa yang dilakukan Alex, dengan turut membawa Timnas meraih medali perak di SEA Games. Apalagi dia juga bermain dengan bagus selama perhelatan di Filipina,” jelasnya.

Haris berharap, apa yang dilakukan oleh Alex ini bisa menjadi motivasi bagi banyak pesepakbola muda di Kota Malang untuk terus bisa berlatih dan bekerja keras demi prestasi tertinggi dan mengharumkan nama Kota Malang tercinta.

“Alex punya karier yang bagus. Karena dia anaknya memang mau bekerja keras. Saya harap apa yang dilakukan Alex bisa menjadi contoh bagi pesepakbola muda lain di Kota Malang. Apalagi memang tekad PSSI Askot Malang dan Persema, adalah untuk terus jadi produsen pesepakbola level nasional,”pungkas Haris.

Askot Malang Bangga, Satu Pemain Binaannya Turut Hantarkan Timnas Indonesia Raih Perak di SEA Games 2019

PSSI Askot Malang turut berbangga dengan torehan Timnas Indonesia yang mampu melenggang hingga babak final di SEA Games 2019 Filipina, dan meraih medali perak, setelah di final harus menyerah tiga gol tanpa balas dari Vietnam yang akhirnya tampil sebagai juara.

Rasa bangga insan sepakbola di Kota Malang juga semakin menebal, karena ada salah satu pemain binaannya di dalam kubu Skuat Garuda Muda tersebut. Ia adalah bek Dodi Alexvan Djin, yang beberapa waktu lalu sempat jadi bagian dari tim Askot Kota Malang dengan bendera Persema 1953.

Menurut mantan pelatih Alex di tim internal PSSI Askot Malang FC Porto dan juga Persema 1953 Andrean ‘Ambon’ Dedy dirinya merasa senang dan bangga bahwa salah satu anak didiknya, ada yang bisa turut menghantarkan Pasukan Merah Putih berprestasi di multi event level Asia Tenggara tersebut.

“Saya sangat bangga dan senang ya, karena Alex bisa jadi bagian skuat Timnas U-23. Apalagi dia juga bukan hanya cadangan, tapi bisa menunjukkan kualitas yang baik ketika diberikan kesempatan untuk bermain,” ujar Ambon.

pict by: ngopibareng.id

Alex sendiri memang pernah menjadi bagian dari Askot PSSI Malang. Ketika tahun 2016/2017 ia bergabung dengan salah satu klub internal anggota PSSI Kota Malang bersama Porto FC. Tampil menyakinkan bersama tim Porto, ‘pemain yang sering dimainkan sebagai bek tengah tersebut, akhirnya ‘naik kelas’ dengan memperkuat klub Persema 1953 di musim 2017 yang berkompetisi di Liga 3 Jawa Timur.

Menurut Ambon yang memang sejak awal Alex tiba di Malang sudah menanganinya di tim Porto, pemain asal Ternate tersebut merupakan pemain yang punya karakter dan mental pantang menyerah, selain didukung kemampuan fisik dan bermain bola yang baik. Sehingga sejak lama mantan bek Persema tersebut sudah memprediksi bahwa Alex akan jadi pemain besar di kemudian hari.

“Dari dulu kemampuan Alex sudah menonjol. Dia punya mental dan karakter pantang menyerah yang bagus. Selain juga keinginannya besar untuk belajar hal – hal baru. Dengan modal tersebut ditambah fisiknya yang OK, saya sejak dulu sudah punya harapan jika dia bisa menjadi pemain di level tinggi. Alhamdullilah sekarang sudah tercapai dengan Timnas dan Persik Kediri,” lanjut pria yang juga anggota tim pemandu bakat PSSI Askot Malang ini.

Menurut Ambon adalah tidak mudah bagi Alex yang satu – satunya pemain dari Liga 2 harus bersaing dengan pemain lain di Timnas U-23 yang berasal dari kasta lebih tinggi bahkan jebolan klub – klub luar negeri. Apalagi menurutnya, Indra Sjafri adalah pelatih yang benar – benar mengedepankan kualitas ketika memilih pemain untuk diturunkan.

“Alex saya kira sukses membuktikan kualitasnya. Ia mendapatkan menit bermain dan sempat jadi starter dan bermain baik. Bukan soal mudah harus bersaing dengan pemain – pemain lain yang dari Liga 1. Saya juga tahu Coach Indra (Sjafri) juga sangat selektif kalau pilih pemain,” tuturnya.

Disamping nama Dodi Alexvan Djin yang kini berprestasi bersama Timnas U-23 dan juga musim depan merasakan Liga 1 bersama Persik Kediri, masih ada beberapa nama pemain muda jebolan Askot Malang/ Persema yang sudah lebih dahulu merasakan kompetisi Liga 1. Mereka adalah winger Rival Lastori yang kini bermain bersama klub papan atas Borneo FC, serta juga Anan Lestaluhu yang musim ini meraih juara bersama Bali United.

Suatu kebetulan. ketiga pemain ini memang satu angkatan ketika berada di bawah binaan PSSI Askot Malang

Tentu saja hal ini menjadi langkah positif bagi PSIS Askot Malang dan Persema yang memang bertekad kembali menjadi gudang dan produsen pemain – pemain berlevel nasional di Indonesia.

Rekor! Kejurnas Futsal Putri Dengan Peserta Terbanyak Digelar di Kota Malang

Askot PSSI Kota Malang wajib berbangga. Setelah sukses menggelar Kejuaraan Futsal Putri Nasional dengan peserta terbanyak yang pernah diadakan di Tanah Air. Tercatat ada 24 tim, dengan 250 lebih pemain, yang ambil bagian dalam kejurnas yang digelar di SM Futsal Malang, 26-27 Oktober 2019 tersebut.

24 Tim yang berlaga di Kejurnas Futsal Putri ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Kupang, Kediri, Ponorogo, Manado, dan juga dari Malang Raya.

Ketua Umum PSSI Askot Malang Haris Thofly mengakui terkejut dengan tingginya animo dari peserta yang ingin ikut di Kejurnas ini.

Ia berharap, tingginya jumlah peserta ini, menjadi gambaran cerahnya masa depan futsal di Indonesia, khususnya dari sektor putri.

“Saya kaget ternyata peserta membludak. Tahun lalu hanya 16 tim. Sekarang 24. Ini yang terbanyak yang pernah digelar di Indonesia. Bahkan saya dapat info, seharusnya bisa 32 tim, namun tidak bisa terwujud, karena banyak pemain dan tim yang sedang fokus di Liga 1 Putri,” kata Haris.

” Tentu banyaknya peserta ini adalah gambaran yang sangat positif bagi olahraga futsal di Indonesia. Apalagi Timnas kita di futsal juga sedang bagus-bagusnya. Semoga dari kejurnas ini bisa lahir pemain-pemain sepakbola dan futsal putri yang jempolan,” ucap pria yang juga akademisi dari Universitas Muhammadiyah Malang tersebut.

 

Kota Malang Jadi Tuan Rumah Pelatihan Pengawas Pertandingan Level Kota/Kabupaten

Demi bisa terus menambah perangkat pertandingan, khususnya di sektor pengawas yang berkualitas, PSSI terus memggelar pelatihan di daerah. Salah satunya diadakan di Kota Malang, pada 26-30 Oktober 2019.

Mengambil lokasi di Rusunawa UMM, peserta kursus Pengawas Pertandingan (PP) ini berjumlah 43 peserta, yang terdiri dari 37 peserta laki-laki dan 6 wanita.

Para peserta ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tercatat yang paling jauh, berasal dari Ketapang Kalimantan. Sementara, sebagai tuan rumah, PSSI Askot Malang mengirimkan 9 orang perwakilan peserta.

Hadir sebagai instruktur dalam pelatihan PP tingkat Kota/ Kabupaten ini adalah Edi Muslim Instruktur PP level nasional.

Menurut Ketua Umum PSSI Haris Thofly yang berkesempatan hadir untuk membuka pelatihan, event seperti sangat penting, untuk terus bisa menambah jumlah PP berkualitas, khususnya di level kota/kabupaten yang biasanya banyak diisi pembinaan.

“Pelatihan ini sangat penting. Agar kita selalu punya PP yang berkualitas. Apalagi hari ini banyak diisi wajah muda, yang tentu lebih semangat lagi. Ini bagian dari pengembangan sepakbola di Indonesia,” ulasnya.

Setiap peserta pelatihan yang menyelesaikam semua materi, akan langsung mendapatkan sertifikat, yang bisa mereka gunakan untuk mengawasi pertandingan di level kota/kabupaten.

 

 

Kalah 1-3 Dari Persegres, Persema Hampir Pasti Gagal Melangkah Lebih Jauh di Piala Soeratin U-17

Asa Persema Junior untuk bisa melenggang jauh di ajang Piala Soeratin 2019, harus terhenti. Setelah Bledeg Biru Licek dikalahkan Persegres Putra dengan skor 3-1, pada pertandingan kedua babak 18 besar Piala Soeratin Zona Jatim di Lapangan ASIFA Malang, Selasa (22/10).

Kekalahan 3-1 ini sendiri diterima dengan lapang dada oleh Pelatih Persema Mahmudiana. Menurutnya, para pemain sudah berjuang luar biasa dalam dua hari pelaksanaan babak 18 besar ini. Sehari sebelumnya, Zidane Irodat dkk sudah bermain melawan tuan rumah ASIFA dengan skor imbang 0-0.

Mahmudiana menyebut kelelahan dan banyaknya pemain yang cedera jadi faktor kekalahan Persema. Selain itu, ia juga menyebut bahwa atas kekalahan ini, dirinya sebagai pelatih kepala lah yang akan bertanggung jawab sepenuhnya kepada manajemen Persema dan Askot PSSI Malang.

“Anak – anak hari ini sudah luarbiasa, mereka sudah berjuang keras. Namun situasi yang tidak memungkinkan. Mereka selain kelelahan karena laga beruntun. Juga pemain kami banyak yang cedera dari lawan ASIFA. Namun bagaimanapun ini kesalahan saya. Kami dari tim pelatih meminta maaf kepada masyarakat Kota Malang dan siap bertanggung jawab,” ujar Mahmudiana seusai laga.

Pertandingan, antara Persema kontra Persegres U-17 sendiri berlangsung menarik, dengan jual beli serangan secara ketat terjadi. Tim Persema harus tertinggal terlebih dahulu di babak pertama. Sebelum akhirnya sempat menahan imbang, dan akhirnya dibalas dua gol oleh Persegres pada paruh waktu kedua.

Hasil ini membuat peluang Persema Jr untuk lolos sudah pupus. Mengingat di laga pertama, Persema hanya bermain imbang 0-0 dengan ASIFA. Sementara hanya juara grup yang bisa lolos plus  2 runner up terbaik dari 6 grup yang ada.

Sementara pada laga selanjutnya, ASIFA akan menjamu Persegres pada laga terakhir, di Lapangan ASIFA, Rabu (11/22).

18 Besar Piala Soeratin Zona Jatim: Persema Jr Tahan Imbang ASIFA

 

Persema U-17 mengawali langkahnya di babak 18 besar Piala Soeratin 2019 Zona Jatim, dengan menahan imbang tuan rumah ASIFA Putra. Dalam laga yang dimainkan di Lapangan ASIFA, Senin (21/10), Bledek Biru Licek harus berbagi poin dengan ASIFA dalam skor 0-0.

Sejak menit awal, kedua tim mencoba bermain terbuka, baik ASIFA maupun Persema, tampak mencoba secepatnya mencetak gol, dengan bermain menyerang. Namun upaya tersebut tak berbuah hasil, lantaran pertahanan kedua tim yang berlaga mampu bermain solid, hingga serangan demi serangan yang dibangun, gagal membuahkan hasil positif.

Hingga wasit meniup peluit tanda masuk waktu rehat, skor imbang 0-0 tidak berubah.

Pada babak kedua, ASIFA mencoba menambah intensitas ritme permainan, menjadi lebih keras. Duel antar pemain pun sulit terhindar, hingga tampak tim medis kedua tim cukup sibuk untuk bisa memberikan penanganan kepada pemain yang terdampak.

Meskipun begitu, Persema Junior sebenarnya mampu bermain lebih efektif, dengan serangan – serangan balik cepat. Namun sayang sejumlah peluang yang ada masih gagal berbuah gol. Hingga tambahan empat menit di babak kedua, skor kacamata tidak berubah.

Meskipun gagal mengamankan tiga poin, pelatih Persema Malang Mahmudiana, mengaku sangat bangga dengan perjuangan para pemain mudanya di atas lapangan hijau. Apalagi poin ini didapatkan di kandang lawan.

“Anak – anak sudah berjuang maksimal. Laga kali ini tidak mudah, karena ini juga di kandang lawan. Saya bangga dengan apa yang sudah dilakukan para pemain,” ucap Mahmudiana.

Setelah mampu menahan imbang ASIFA, kini Persema menyisakan satu laga lagi, yaitu melawan Persegres Putra pada Selasa 22 Oktober 2019 di Lapangan ASIFA. Jika masih ingin lolos ke-10 besar, Persema wajib memenangkan laga lawan tim asal Gresik tersebut dengan skor besar.

Sua ASIFA dan Persegres, Persema Junior Tak Gentar

Tim Persema Junior, akan kembali berjuang di ajang 18 besar Piala Soeratin wilayah Jawa Timur. 21-22 Oktober 2019, Bledeg Biru Muda akan bertarung dengan Asifa Putra dan Persegres Putra di Lapangan ASIFA Malang.

Menghadapi Putra Asifa yang notabene tim sekota, manajer Persema Malang Junior Yudha Kistiawan mengaku akan mempersiapkan para pemainnya sebaik mungkin. Ia menyerahkan program latihan kepada para tim pelatih. Yang bisa dipastikan, dengan  masuknya Persema di grup ini, tetap membuat dirinya bersama para pemain tetap optimis tetap bisa lolos ke babak berikutnya di Piala Soeratin 2019 ini.

“Hasil gruping dan penunjukan Asifa sebagai tuan rumah ini kami sambut baik. Karena dengan laga dimainkan di Malang, anak-anak tidak perlu adaptasi cuaca lagi,” kata Yudha.

Terkait dengan persiapan timnya, menghadapi Putra Asifa dan Putra Persegres, Yudha menyebut perbaikan total di semua lini akan dilakukan, demi memuluskan jalan lolos ke fase selanjutnya di Soeratin.

“Semua lini kami perbaiki. Transisi bertahan menyerang, serta penyelesaian akhir, harus disempurnakan kembali, kalau kami masih mengincar target lolos ke babak berikutnya,” beber Yudha.